By iketut

Muqoddimah

Allah Taâla telah memberikan pengkhususan terhadap tanah Andalus berupa ladang yang hijau, perairan yang sejuk, makanan yang lezat, empuknya daging, manisnya buah-buahan, air yang melimpah ruah, udara yang sejuk, orang-orang yang berkulit putih, dan kemahiran masyarakatnya dalam arsituktur serta pembangunan. Juga Andalus terkenal dengan benteng-benteng yang mengitarinya serta pabrik-pabrik yang baesar, terdapat pula disana daratan dan lautan dan tempat yang landai dan pertebingan. Demikian apa yang ditulis oleh Al maqqary mengenai sifat dan keadaan daerah ini. Daerah yang pernah menjadi pusat peradaban Islam barat, selama delapan abad lamanya, hingga runtuhnya ke tangan orang-orang Nasrani Sepanyol. Sebelum kedatangan uamat Islam bernama Iberia kemudian bernama Andalusia.

Pada dasarnya Andalusia hanya dinisbatkan kepada bagian selatan jazirah saja, namun lama-kelamaan berkembang meliputi seluruh jazirah. Juga tak dapat dipungkiri bahwa Andalusia dan kemajuan sastranya telah banyak memberikan kontribusi besar bagi kesustraan Arab dan Islam secara umum, begitupula terhadap Barat. Dimana terjadi intraksi social dan pemikiran antara umat Islam dan Nasrani, yang akhirnya banyak memberikan pencerahan bagi mereka. Sampai sekarang pun masih dapat kita lihat dan kita saksikan bekas-bekas kejayaan Islam baik dari adat istiadat, tingkah laku juga sejumlah bentuk ungkapan bahasa. Dan dapat kita saksikan pula berbagai macam karya sastra yang terpengaruh oleh sastra Arab, seperti terpengaruh oleh buku maqâmât Al Harîri. Contoh dari karya orang barat antara lain adalah Komedi Ilahiah buah karya Dante. Banyak ulama berpendapat bahwa buku tersebut mengambil fikroh dari buku karangan satrawan serta filosouf Islam Al-Maa’rry kendati mendapat sangakalan serta bantahan dari sejumlah besar kaum orientalis. Begitu pula dengan kisah Robinson Kross hasil karya Danial Divo penulis Inggris tahun 1660-1731, karya ini sangat sama sekali dengan kisahnya Hay bin Yaqzan hasil karya Ibnu Thufail yang hidup beberapa abad sebelumnya, sastrawan Islam yang mengkombinasiakan sastranya dengan filsafat, dikarenakan pada zaman tersebut filsafat telah masuk ke tanah Andalus.

Pada makalah sederhana ini penulis ingin menuliskan sedikit ma’lumat mengenai sastra Islam di Andalus, serta pengaruh-pengaruh yang di timbulkannya terhadap negeri tersebut, baik secara materi dan ma’nawi, untuk mengingatkan kita kembali kepada jasa leluhur yang telah banyak memberikan kontribusi, baik itu berupa manuskrip-manuskrip atau peradaban yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada anak cucu kiita kelak.Contoh kongkritnya saja buku Bidayayatu Al Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, Alfiyatu ibni Mâlik, juga buku sastra terkenal Al A’qdu Al Farîdh

Sekelumit Tentang Sastra Andalus

Ada beberapa aspek penunjang yang banyak mempengaruhi kaemajuan sastra Andalus. Pertama, keindahan Alam raya Andalusia, juga cuaca dan udaranya yang sejuk, tanah serta tamannya yang hijau. Hal ini sangat banyak sekali memberikan pengaruh terhadap peradaban daratan Andalus. Ada sebuah ungkapan menarik ketika Musa ibnu Said diajak oleh teman-temannya untuk meninggalkan tempat ini menuju Magrib. Dia berkata,” Bagaimana saya akan meninggalkan daerah ini, sedangkan engkau mengetahui bahwa tempat ini adalah surga dunia dimana Tuhan telah memberikan kepadanya cuaca yang stabil, air yang jernih, begitu pula orang-orangnya sangat menyejukkan kalbu, bersahabat dengan kelembutan alam, serta kicauan burung-burung yang merdu. Pradaban serta alam yang demikian sangat banyak sekali pengaruhnya terhadap sastra Arab di Andalusia, maka terjadilah perubahan corak sastra yang mana sebelumnya menampilkan sifat-sifat padang pasir yang panas dan keras menjadi sastra yang lembut, penuh dengan ungkapan-ungkapan alam mereka, bukan saja pada syair akan tetapi terjadi juga paada prosa, maka tergabunglah menjadi satu antara kelembutan sastra dengan indahnya bahasa Arab yang tak jarang diungkapkan secara metaphor oleh penyair serta sastrawan Islam. Kedua, Matangnya pola pikir Arab. Telah datang silih berganti ke tanah Andalusia berbagai macam bangsa. Pada mulanya diperintah oleh bangsaYunani, Romawi, kemudian Qûth,dan akhirnya datang bangsa Arab sehingga beradaptasi dan bercampur baur dengan penduduk asli. Dari sanalah muncul genersi baru yang mempunyai sifat kearaban dan pola pikir Aria. Ketiga, adanya rasa persaingan dengan timur. Rasa bersaing sedemikianlah yang membuat perkembangan pesat di dalam sastra Andalusia sehingga dapat mempengaruhi keproduktifan penulis-penulis Andalus, juga pesatnya karya-karya sastra. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa di Andalus ketika itu terdapat tujuh puluh perpustakaan, terdiri dari empat ratus ribu buku. Banyak diantara ulama Andalus yang pergi ke timur untuk menimba ilmu dan mencari buku, dan sebaliknya ulama timur datang ke Andalus untuk mencari tempat dan penghargaan dari kholifah. Jarak yang jauh antara Bagdad dan Qordoba tidak menjadi penghalang bagi safari mereka dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan. Tak ayal lagi kalau terjadi persaingan ketat antara barat dan timur pada waktu itu dalam pengkodifikasian karya serta penulisan ilmu pengetahuan, walaupun ada kecendrungan ulama Andalusia dalam mencontoh karya-karya ulama timur. Contohnya Ibnu Abdi robbih menulis buku berjudul Al Aqdu Al Farîd yang banyak mencontoh Ibnu Qutaybah pada bukunya Uyûnu Al Akhbâr, Ibnu Bassâm dalam bukunya Al Zakhîrah banyak mengutip dan mencontoh karangan Al Tsaâ’labi dalam bukunya Yatimatu Al Dahri dan seterusnya. Begitu pula hal nya dengan syair-syair, mereka banyak mentransfer dari timur. Kendati demikian mereka tidak menghilangkan identitas serta cirri-ciri khas kesusutraan mereka sehingga apabila dihadapkan pada hasil-hasil karya Andalusia kita akan melihat corak-corak khusus yang ada pada karya-karya tersebut, menunjukkan bahwa banyak penambahan serta pembaharuan yang dihasilkan oleh ulama-ulama Andalusia terhadap karya timur. Dan akhirnya menimbulkan gaya karya baru setelah karya timur, yaitu Arab Andalusia. Salah satu contohnya adalah Ibnu Abdi Rabbih menampilkan pada Al Aqdu Al Farîd beberapa contoh buah karya Abu Tammâm dan penyair-penyair besar lainnya. Kemudian setelah itu beliau menulis syair, sebagai buah karyanya sendiri dalam judul yang sama. Tak lupa pula ia menerangkan kemampuannya sebagai penyair Andalusia, dan dengan karyanya tersebut memberikan indikasi keahlian serta kelebihanya di antara ulama-ulama yang lain. Keempat, Pengaruh identitas kebudayaan yang lazim di negeri mereka.

Walaupun orang-orang Andalusia banyak terpengaruh oleh pola pikir timur, bukan berarti terpengaruh oleh kebudayaan serta filsafat yang cenderung digandrungi oleh timur. Pada zaman-zaman keemasan Anadalusia mereka lebih condong kepada corak peradaban Islam Arab murni. Dan masih menolak filsafat, juga memusuhi orang yang menggeluti hal tersebut, sampai-sampai menuduhnya sebagai Zindiq, maka dari itu sastra Andalusia tidak mempunyai komposisi filsafat sebagaimana di timur.

Dan rasanya perlu disebutkan bahwa filsafat baru bisa masuk ke Andalus pada abad-abad terakhir kejayaan Islam. Diantara tokoh-tokohnya adalah Ibnu Bâjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, mereka pun sangat inten dan perhatian terhadap bidang ilmu ini. Akan tetapi kematangan filsafat belum banyak memberi pengaruh yang luas di dalam sastra Andalusia, karena keterlambatan kemunculanya di Andalus.

Sya’ir Tentang Alam Al- Thobîah

Sya’ir thobîah adalah syai’r yang menggambarkan keadaan alam secara shômit dan Shôit, hal tersebut timbul dari perasaan sang penyair melalui khayal serta intuisi sang penyair. Penyair-penyair Arab banyak sekali yang menjadikan alam sebagai inspirator baginya sesuai dengan zaman dimana ia hidup. Penyair Jahili menggambarkan tentang puing-puing dan reruntuhan istana dan bangunan mereka, padang pasir, hujan dan petir, sebagaimana juga mereka menggambarkan tentang onta, kuda, dll. Dan perlu diingat bahwa lingkungan jahiliah adalah lingkungan nomadenisme badawiyyah.

Dan ketika orang-orang Arab hijrah dari lingkungan nomaden ke lingkungan yang maju dan bersifat tetap hadhôroh mualailah mereka mengenal kemewahan dan kemegahan istana, keindahan taman, serta tumbuh-tumbuhan yang menghijau, maka berkembanglah sya’ir thobîah. Salah satu contohnya adalah penyair-penyair Abbasiah, mereka sering sekali memunculkan syair yang mengandung keindahan alam, walaupun tidak sepenuhnya, dan masih memadukannya dengan bentuk-bentuk lain dari sastra, seperti percintaan, pujian, serta khamr.

Yang penulis sebutkan tadi adalah syai’r thobîah di negeri timur, bagaimana keadaannya dengan syai’r thobîah di negeri Andalus. Telah berkembang pesat bentuk serta corak ini di negeri Andalusia. Tentu saja banyak factor yang mendukung hal tersebut, muingkin dapat kita sebutkan disini.1. Keindahan alam. Pada muqoddimah makalah ini telah penulis ungkapkan bahwa Andalusia adalah daerah yang indah dan mempesona, hal ini sangat berpengaruh sekali terhadap watak, sikap serta karya-karya sastra, contohnya syair atau puisi. Disamping jiwa penyai’r bangsa tersebut yang juga menjadi penyebab majunya syai’r thobîah di daerah tersebut. 2. Kecintaan bangsa tersebut terhadap negeri mereka. Sebagimana kita ketahui jikalau seseorang telah mencintai sesuatu maka akan banyak ungkapan serta ta’bir yang keluar dari perasaanya, betapa tidak bangsa yang mempunyai bahasa Arab kemudian berpadu dengan kecintaannya kepada negerinya. Ibnu Said Al- Andalusi pernah menyebutkan tentang negerinya dalam syai’r-syai’r dan buku sastra karangannya, kemudian membandingkanya dengan negeri timur serta barat lainnya. Kemudian pada kulminasi tulisannya mengatakan,”Sungguh negeri Andalus adalah negeri yang sangat indah. Tak lupa pula kita sebutkan bahwa bentuk-bentuk sastranya banyak menyerupai timur,dan juga sering mengkombinasilan alam dengan perkataan-unik. Sedangkan kombinasi antara alam dan percintaan ghozal, dapat kita temukan pada syai’rnya Ibnu Zaidun, ketika ia mngirimkan syair kepada kekasihnya di Istana, sedang ia di tempat yang jauh tak seorangpun mengetahuinya. Dimana ia merasa asing setelah mendapatkan tuduhan serta hukuman penjara, yang sangat tidak berdasarkan sekali.

Sebuah Bukti atas Transformasi Sastra dan Pradaban

pada bagian ini penulis akan memberikan beberapa bukti transformasi budaya dan sastra di negeri Andalusia. Sebagai telaah bagi kita, bahwa Andalusia pernah berjaya dengan sastra dan kebudayaan Islam. Pada dasarnya hubungan antara sastra, budaya sepanyol dan Prancis terjadi pada abad pertengahan, ketika peradaban Prancis selatan mulai menjadi megah dan besar, tepatanya di Provence. Dari sanalah muncul kelompok penyair pengembara Troubadrous salah seorang tokohnya adalah Ruy Diaz de Biver, seorang tokoh perlawanan terhadap masyarakat Islam. Dan memang harus diakui bahwa pada abad pertengahan tersebut, sastra serta peradaban barat mulai terlihat geliatnya. Contohnya saja seorang raja Sepoanyol bernama Al- Fonso mempunyai julukan Al- Âlim., julukan atersebut diberikan karena dia selalu menghunus pedang untuk berperang melawan musuh-musuhnya, namun di lain waktu dia memegang bukunya, mendalami ilmu-ilmu pengetahuan, serta menulis karya-karya sastra.

I. Al- Musta’ribûn

Pada dasarnya karya sastra yang dihasilkan oleh kaum Al-Musta’ribûn sangatlah lemah, baik berbahasa latin maupun Arab, kemudian mereka pun mulai terpengaruh oleh kehidupan social Islam yang memberi pencerahan bagi mereka. Salah satu contohnya adalah mereka lebih mengutamakan penggunaan bahasa Arab,juga nama-nama dan pakaian mereka serta berusaha mencontoh peradaban Isalam dalam aspek-aspek kehidupan mereka. Albero Al Qortubi seorang ilmuan sepanyol,pernah memberikan pendapat, tak ada bantahan terhadapnya dan masih sering dikutip oleh banyak pengarang dan penuis barat maupun timur. Dia memberikan kesaksian bahwa orang Nasrani Sepanyol mempunyai kecendrungan yang sangat besar terhadap sastra Arab dalam sebuah ungkapan mereka berkata,” Sesungguhnya saudara-saudara ku seagama menemukan kenyamanan dan sesuatu keindahan ketika membaca syair-syair Orang Arab, dan hikayat kehidupan mereka. Pun mereka berbondong-bondong mempelajari mazhab-mazhab ahli agama, filosouf -filosouf muslim, bukan untuk mengkonternya akan tetapi mencoba mengambil uslub-uslub Arab yang indah dan benar.

Kebanyakan dari buku-buku latin yang ditulis oleh kaum Al- Musta’rbûn mempunyai catatan-catatan kaki, komentar dengan bahasa Arab, seperti buku latin berjudul ‘kitâbu tafshîli al azmân wa mashôlihi al abdân’ buku tentang ilmu falaq “menjelaskan masalah peredaran bulan, serta menyebutkan keindahannya. Pada dasarnya, ketika zaman keemasan Islam orang-orang sepanyol lebih cakap berbahasa Arab ketimbang bahasa asli mereka, sampai-sampai menyerupai orang Arab dalam kemahiran berbahasa, tak dapat dipungkiri pula bahwa mereka telah memakai bahasa Arab sekian waktu lamanya, yaitu setelah runtuhnya kekuasaan Islam di Jazirah tersebut. Banyak adat-istiadat culture arab yang disadur ke dalam lini kehidupan bangsa sepanyol, sampai kepada penulisan buku-buku dan pemakaian nama-nama Arab, hingga abad keempat belas masehi, bukti-bukti ini masih dapat kita temukan pada dokumentasi-dokumentasi Toledo walaupun tak kita dapatkan hasil karya yang berharga dari mereka.

II. Al-Musta’jimûn

Akhir dari pada bentuk sastra Arab Andalus yang muncul di sepanyol adalah sastra Los Moriscos yaitu sastra yang ditulis dengan bahasa Sepanyol, namun memakai huruf-huruf Arab. Orang Arab menyebutnya Al-Jamîya ” kalimat Arab yang disepanyolkan” kenapa demikian, karena keadaan lah yang memaksa. Kaum Moriscos merasa takut dan khawatir setelah jatuhnya Granada ke tangan orang-orang Nasrani, apalagi ketika mereka dihadapkan kepada kasus-kasus pengkafiran dan pemurtadan, hal demikianlah yang membuat keterputusan mereka dengan khazanah-khozanah sastra dan pemkiran leluhur. Namun mereka tidak meninggalkan huruf-huruf hijâiyyah

Dan terus menulis ilmu-ilmu Islam serta warisan leluhur sebagai resistensi serta benteng yang kokoh bagi akidah mereka, untuk kemudian mewariskannya kepada generasi setelahnya. Semua apa yang dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah,bahwa tulisan-tulisan tersebut berasaskan Islam dan belum dpat dipelajari rahasia rumus-rumusnya kecualai pada abad ke sembilan belas masehi.

Ketika orang sepanyol hendak melaksanakan pengusiran besar-besaran terhadap sisa-sisa umat Islam dari negeri mereka, maka kaum Moriscos mencoba untuk menyembunyikan tulisan-tulisan atersebut. Dan memunculkannya kembali secara pelan-pelan. Salah satu penulis besarnya adalah Isa ibnu Jabir seorang faqih masjid Segoviano dalam bahasa sepanyol dikenal denagan nama Isa de Gebir, Ia menulis buku berjudul Al kitâb Al Syaqûbi, di bawah namanya tertulis dengan huruf Arab breviario sunni atau dalam bahasa Arabnya mukhtashar al sunnah. Yaitu tulisan singkat tentang akhlaq dan syariah, buku ini banyak sekali beredar di kalangan Moriscos, dan terdiri dari bab-bab iman, aqidah kemudian wudhu, thoharaoh, air yang suci dan tidak suci. Beliau memakai istilah-istilah ibadah dalam Islam dengan logat Qostilla seperti arraquer atau al rukû’- anafilesa tau al nawâfîl, menjamakannya dengan jama Qostilla.

Syair Moriscos

Tak luput dari karya mereka adalah seni syai’r yang ditulis dengan bahasa Qostilla, akan tetapi berhurfkan huruf Arab. Contohnya adalah qoshidah Yusuf ditulis pada abad ke tiga belas dan empat belas masehi. Syair ini memakai bahasa Qostilla lama yang dikenal dengan Cuarderno Via, yaitu qoshidah yang setiap empat baitnya dalam satu qâfiyah. Isinya tentang kisah Nabi Yusuf AS dan Ya’Qûb AS, sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran mengenai kisah ini, walaupun banyak juga Isrâiliyyatnya. Contoh lain adalah karya-karya penyair besar Muhammad Romadhon yang berasal dari Rauthoh, ditulis pada tahun seribu enam ratus tiga dengan syair sepanyol berjudul Târîkhu nasabi Muhammad SAW Historia genealogica de Mohama. Begitu pula Nazom qisshoh fazi’ yaumi al hisâb historia del espanto del dia del juicio

III. Pendapat Juan Andreas

Juan Andreas seorang tokoh Nasrani Yasûi’ yang dikeluarkan dari kelompok ini kemudian diusir dari sepanyol telah mentransfer bekas kejayaan Andalus Arab kepada kebudayaan Eropa, sebagai pencerahan atasnya, walaupun sangat minim , dikarenakan sedikitnya marâji’ kecuali fihris latin buku-buku klasik Arab Makhthûthât di perpustakaan Iskareal yang ditulis oleh Mikhâil al ghosîrî. Dari maraji’ inilah Juan Andreas menulis buku yang sedikit aneh dengan bahasa Italia antara tahun seribu tujuh ratus delapan dua dan seribu tujuh ratus sembilan puluh delapan berjudul Asal-usul Sastra Secara Umum serta Keadaan dan Perkembangannya diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol antara tahun 1784-1806, salah satu stressing poin dari buku itu adalah’bahwa sesungguhnya timbulnya pergerakan studi tentang kedokteran adalah kembali kepada jasa bangsa Arab, dimana bangsa barat ketika itu masih terbagi menjadi dua bagian, sebagian berpacu menyusun peradaban sedangkan yang lain masih dalam keterbelakanagan.

Kemudian dia juga menyebutkan hasil-hasil terjemahan bangsa Arab dari peninggalan serta buku-buku India, fersi, Mesir, Yunani di samping pengaruh besar yang membias kepada gerakan eskolarialisasi escurialtion dari buku yang ditransfer ke bahasa latin.

Sedangkan pengaruh Arab terhadap sepanyol secara khusus, beliau mengatakan bahwa masyarakat sepanyol telah memakai dua bahasa, pertama, Bahasa Arab, kedua, Bahasa Sepanyol. Sebagaimana diungkapkan oleh Alberto Qurtubi. Dia juga menyebutkan bahwa pada awal mulanya syair Sepanyol banyak mengikuti syair Arab secara corak maupun ma’na, dan itu merupakan sebuah kelaziman sebagai akibat dari pergumulan dua bangsa, Arab dan Sepanyol, yang menciptakan pengaruh interaktif antara keduanya Al tatsîr wa al taatsur tergantung kuat dan majunya peradaban masing-masing. Hal demikianlah yang membuat transformasi sastra dari sepanyol hingga Provence, juga tak dapat dilupakan penyebabnya yang lain yaitu hubungan orang Sepanyol dengan orang Prancis, dan pengembaraan para penyair yang dikenal dengan klompok Tro Badro sehingga muncul syair Provence yang merujuk kepada syair-syair Arab. Dalam ungkapan Juan Andreas juga dikatakan,” Sesungguhnya syair-syair Provence ini kebanyakan dinisbatkan kepada kaum Arab ketimbang orang-orang Yunani dan Latin, dikarenakan pengetahuan mereka tentang Yunani dan Latin masih sangat minim, tidak seperti pengetahuan mereka tentang literature Arab.

Referensi;

Nafhu Al- Thoyyib min Ghushni Al- Andalusi Al Rathîb. Syihâbuddin Al- Tilmisânî. Ct.Dâru Al-Shâdir Bairût. Tahun. 1968. Juz.I..Hal. 125-126.
Al-Adabu Al- Andalusi Mina Al- Fathi Ilâ suqûthi Al- Khilâfah. DR. Muhammad Haikal. Hal : 21
Daulatu Al- Andalus. Abdullah AL- Anân . Ct. Maktabatu Al Usrah. Juz. 8. Hal : 438-439
Al- Adab Al- Muqârin. DR. Toha Ashar.Ct. Dâru Al- Kutub Al-Mishryyah.Th. 2003. Hal : 124-125
Muhâdarât fî Târîkhi Al-Adab Al- Andalusi. Al- Ustâdz Al- Syyid Ibrâhîm Al- Dud. Ct. Al- Jereisi. Hal : 14-15 Al- A’qdu Al- Farîdh. Al- Tsaâ’laby. Juz. 3. Hal : 137-138
Al- Adab Al- Andalusi. DR. Hasan Jâd,dan DR. Khofâjî. Hal : 8
http://www.kaweki.com/plugins/p2_news/printarticle.php?p2_articleid=30