Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, masyarakat dituntut beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru (new normal). Tatanan kehidupan baru ini menuntut perubahan-perubahan dalam pola perilaku bermasyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan, termasuk dalam bidang pemberdayaan masyarakat desa. Tema inilah yang menjadi topik hangat Diskusi Reboan Daring jilid 1 yang dilaksanakan pada bulan ini.

Pemberdayaan Masyarakat Desa

Proses pembangunan masyarakat desa menuntut masyarakat melakukan inisiatif untuk memulai proses perbaikan situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi. Dengan kata lain, masyarakat harus lihai dalam menyusun, menentukan dan mengeksekusi kebijakan yang ada di desa dan pemerintah desa memiliki fungsi kontrol kebijakan. Hal ini menuntut keterbukaan informasi pemerintah desa yang akuntabel dan kredibel, tujuannya tidak lain sebagai bentuk publikasi informasi bagi masyarakat desa terkait pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa.

Menurut Tri Wahyu Widarto, salah satu narasumber diskusi yang juga pegiat sosial dan pemberdayaan masyarakat desa, secara praktik bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para aktor pemberdaya. Seperti (1) pemberian bantuan sosial (barang, jasa ketrampilan dan uang), (2) peningkatan kapasitas, kapabilitas, aksepbilitas sumber daya manusia, dan (3) advokasi, dengan tujuan untuk memberikan hak komentar pada keberadaan sebuah kebijakan yang berjalan.

Tantangan dan Peluang Era New Normal

Memasuki era new normal, pelaksanaan pemberdayaan masyarakat di desa dituntut beradaptasi dan merubah pola lama. Jika pendekatan pemberdayaan desa yang dilakukan dulu seperti pertemuan dengan masyarakat secara tatap muka dan dihadiri banyak orang, sekarang mulai beradaptasi dengan membatasi tiap pertemuan warga desa serta tambahan protokol kesehatan yang wajib diterapkan di desa. Perubahan lain adalah pembatasan jam kegiatan di desa, menggunakan masker di setiap aktivitas warga desa dan selalu mencuci tangan setiap berpergian keluar rumah.

Heri Setiyono, narasumber diskusi yang juga pegiat desa Kabupaten Blitar menuturkan bahwa tatanan kehidupan baru yang ada di masyarakat akan muncul sebuah tantangan dan peluang yang akan ada di masyarakat. Peluang tersebut diantaranya adalah memproduksi masker, obat-obatan herbal dan bisnis jual beli pulsa elektrik merupakan beberapa contohnya. Sedangkan, tantangan terbesar dari new normal dalam proses pelaksanaan pembangunan desa adalah kemungkinan banyaknya informasi yang tidak dapat tersampaikan secara langsung. Pertemuan virtual sebagai salah satu bentuk adaptasi era new normal akan sering dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat akan membatasi ketersebaran dan pemahaman informasi. Tidak hanya itu, pembatasan pertemuan fisik juga dapat mengikis nilai-nilai kebersamaan yang sejak dahulu hidup dan tumbuh di desa.(Vl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *