Rabu, 13 Oktober 2021, Komunitas Averroes kembali laksanakan Diskusi Reboan. Diskusi Reboan adalah program diskusi rutin yang diselenggarakan oleh Averroes setiap Rabu malam. Diskusi ini membahas seputar isu kontemporer atau kajian teoritis yang bertujuan untuk mengembangkan wacana kritis anggota komunitas dan masyarakat umum. Melalui proses diskusi yang dialektis diharapkan para peserta dapat memahami secara utuh mengenai tema-tema yang sedang mengemuka.

Pada diskusi ini, tema Big Data (Data Berukuran Besar) dikupas tuntas oleh para narasumber. Pembahasan big data dimulai dari sejarah, definisi, dan pengaruh dalam kondisi dan tatanan sosial masyarakat. Dua narasumber tersebut adalah Dwi Purbo Yuwono selaku Web Developer dan Content Creator dan Mohammad Imbarotul Muwaviq, Dosen Elektro Institut Teknologi PLN.

Dwi menjelaskan tentang jalan panjang big data. Ia memulai materi dengan penjelasan sejarah yang diawali dari sisi gelombang peradaban yang berisi tentang era agrarian, era industri, era informasi, dan dari sisi globalisasi (globalisasi 1.0, globalisasi 2.0, globalisasi 3.0 dan dari sisi revolusi, yang isinya membahas tentang relovusi industri 1.0, revolusi industri 2.0, revolusi industri 3.0 sampai kepada revolusi industri 4.0). Lebih lanjut, Dwi menegaskan mengenai karakteristik dan ekosistem data berukuran besar.

Dwi Purbo tengah menyampaikan materi sejarah panjang Big Data

Afiq, sapaan akrab Mohammad Imbarotul Muwafiq, menjelaskan mengenai pengertian data berukuran besar serta penerapannya dalam berbagai bidang. Ia juga menerangkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan data berukuran besar, seperti artificial intelegent, machine learning hingga deep learning. Menurutnya, beberapa profesi atau pekerjaan yang akan ramai di masa depan yang berkaitan dengan penggunaan data besar.

Salah satu peserta diskusi reboan, Malik Fajar, memberikan sebuah pendapat tentang pendidikan dan data berukuran besar, Fajar mengungkapkan keresahan tentang masa depan Indonesia ketika pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi namun tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusianya, Fajar juga menyebutkan alasannya, di mana kurang adanya minat pada generasi muda tentang hal-hal yang berbau pembelajaran, hal itu dibuktikan ketika pandemi, banyak anak muda yang memanfaatkan internet untuk bermain game dari pada mencari bahan pelajaran.

Selain itu, Asrori, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, menambahkan bahwa penerapan data berukuran besar masih belum terlaksana sepenuhnya di Indonesia. Hal itu disebabkan kurang meratanya akses teknologi di Nusantara. Misalnya di salah satu daerah di wilayah Jawa Timur, akses listrik baru masuk di tahun 2018, artinya butuh beberapa langkah lagi untuk bisa sampai pada penerapan data berukuran besar.

Beberapa opini diatas merupakan gambaran kecil dari diskusi yang berlangsung selama 2 jam 30 menit tersebut. Sebagai penutup, Dwi memberikan informasi kepada peserta diskusi mengenai output dari Diskusi Reboan yakni adanya tulisan-tulisan mengenai data berukuran besar yang dibungkus dalam E-Magazine Averroes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *