Pendidikan pada dasarnya adalah proses pengembangan potensi peserta didik, oleh karena itu, pembelajaran harus dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik. Pendidik hendaknya berupaya mendorong peserta didik untuk mengungkapkan pengalaman, pikiran, perasaan, eksplorasi, dan ekspresinya, yang merupakan potensi dari upaya pengembangan peserta didik.

Pendidikan yang awalnya sudah dirancang sedemikian rupa, mulai dari perubahan kurikulum beberapa tahun terdekat yaitu KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), lalu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), hingga K13 (Kurikulum 2013). Semua disiapkan guna menghadapi perubahan zaman yang begitu cepatnya. Seyogyanya, membincang pendidikan memang tak ada habisnya, karena Pendidikan bisa dilihat dari berbagai kacamata. Mulai dari politik, agama, budaya, teknologi, hingga kesehatan.

Saat ini semua negara di dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19 (Corona Virus Deseaese 2019), termasuk Indonesia. Virus Covid-19 merupakan kumpulan virus yang menyebabkan terinfeksinya sistem pernapasan ringan sampai pernapasan berat seperti pneumonia. Penularan virus ini cukup cepat karena dapat menular melalui droplet dan hanya dengan hitungan detik dapat menyebar ke tubuh manusia.

Adanya virus Covid-19 memberikan dampak bagi seluruh masyarakat, termasuk pendidikan. Demi menekan angka penyebaran virus Covid-19, pada tanggal 18 Maret 2020 pemerintah Indonesia mengeluarkan Surat Edaran (SE), yaitu segala kegiatan di dalam maupun di luar ruangan di semua sektor sementara waktu ditunda terutama dalam bidang pendidikan. Sesuai SE No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Peyebaran Covid, maka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap dijalankan melalui pembelajaran daring.

Hilangnya Marwah Pendidik

Pembelajaran masa pandemi yang menggunakan metode daring pada hakikatnya adalah menyelamatkan sember daya manusia yang ada di dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang pada mulanya memiliki misi untuk mengembangkan pengetahuan dan memiliki target yang harus dicapai, pada hari ini sedikit membelokkan niat awalnya. Misi untuk mengentaskan peserta didik dari jurang ketidaktahuan menuju pengembangan potensi serta pembebasan ilmu pengetahuan bergeser menjadi menyelamatkan nyawa yang ada di dunia pendidikan.

Tidak hanya berhenti di situ, pendidikan juga mempunyai cita-cita mulia yaitu mengajari bagaimana cara menjadi manusia yang seutuhnya. Salah satu caranya adalah mempertemukan pendidik dan peserta didik dalam secara langsung.

Benar bahwa ilmu dapat diambil dari mana saja, apalagi di era teknologi. Anak usia usia 6 tahun bahkan lebih piawai mengoperasikan gawainya daripada orang tuanya. Nahasnya, seringkali penggunaan gawai disalahgunakan. Bukan hanya untuk belajar, namun untuk bermain game hingga membuka situs-situs yang tidak cocok untuk seusia anak. Di sini peran pendidik sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk mengajari, tapi pendidik disini berfungsi untuk mengarahkan. Dan hal tersebut akan dapat berjalan efektif manakala terjadi pertemuan langsung.

Makin kesini, dengan kondisi pembelajaran daring, penurunan nilai dalam dunia pendidikan banyak terjadi. Hal itu tidak lepas dari fungsi pendidik yang hanya memberikan materi pembelajaran bersifat ceremonial (Pekerjaan Rumah) tanpa adanya penjelasan yang rinci dan pendampingan pada saat mengerjakan. Pendidik hanya bersifat sebagai pemberi tugas, bukan lagi sebagai pengajar.

Secercah Harapan

Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar pendidikan bisa berangsur-angsur pulih kembali. Salah satunya adalah lahirnya keputusan mengenai pembelajaran tatap muka (PTM).

Apakah hal tersebut akan efektif ?

Perihal efektif dan tidaknya, jika mengacu pada institusi negeri yang tidak ada inovasi dalam membuat strategi dan metode pembelajaran, tentu saja efektivitas yang diharapkan hanya akan menjadi harapan. Maka, pembaharuan metode dan strategi yang inovatif maupun variatif adalah jawaban utama untuk mengembalikan ruh pendidik(an). Strategi macam pembelajaran tatap muka metode shifting atau semi-home scholiing seyogyanya bisa dilakukan. Tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada.

Kehadiran adalah ujung tombak pendidikan. Karena pendidikan tidak hanya mengentaskan kebodohan, melainkan pula menularkan kebaikan, membentuk karakter dan memberikan pemahaman akan kehidupan.

Oleh; Abdal Malik Fajar Alam



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *